Rabu, 16 November 2016
Cara Bijak Menyikapi Kekalahan
Membicarakan mengenai kekalahan, pertama kali yang terlintas di benak pikiran adalah perasaan kecewa dan sedih karena harapan untuk meraih kemenangan gagal. Tapi apakah kita tahu, ternyata dibalik kekalahan tersebut ada hikmah yang dapat dijadikan pelajaran untuk menjadi lebih baik kedepannya??? Yaaa… terkadang kita lupa akan itu
Kekalahan bisa jadi membuat kita semakin takut untuk mencoba lagi, tetapi ada juga yang dijadikan sebagai pelecut semangat baru untuk bangkit dan meraih KEMENANGAN…
Untuk hal ini, saya setuju untuk menjadikan Kekalahan sebagai bahan pembelajaran bagi kita untuk bangkit dan semangat meraih sebuah kemenangan.
Mungkin setiap manusia di dunia ini kebanyakan memilih kemenangan daripada kekalahan. Tak bisa dipungkiri, bahwa kemenangan itu menggembirakan. Tapi inilah hidup yang berputar seperti Roda, terkadang kita ada di posisi bawah saat kita mengalamiKekalahan/Kegagalan, terkadang juga kita berada di posisi puncak saat kita meraih Kemenangan/Keberhasilan. Dan semua itu harus syukuri dan kita sikapi secara positif.
Saat kita mendapatkan Kemenangan/Keberhasilan, hendaklah untuk bersyukur atas kemenangan yang didapat dan berusaha pertahankan kemenangan itu. Sebaliknya, apabila kita mendapatkan sebuah Kekalahan/Kegagalan, janganlah terlalu larut dalam kesedihan, sepatutnya juga kita untuk bersyukur, mungkin ini adalah langkah awal untuk menuju kesuksesan dan cara untuk mengurangi kesombongan hati.
Namun, tahukah kita semua???? “bahwa menerima kekalahan secara dewasa, sabar dan tanpa rasa dendam serta memberikan rasa selamat terhadap pihak yang menang itu sangatlah sulit.” (bisa dipraktekan sendiri)
Jadi menurut saya, seseorang yang mengalami kekalahan, bisa saja dianggap sebagai pemenang apabila ia menerima kekalahannya dan mampu memberikan rasa selamat kepada pihak yang menang tanpa ada perasaan dendam. 🙂
Kalah dalam suatu kompetisi adalah hal yang biasa. Tapi kekalahan sejati adalah ketika tidak mampu bangkit dari kekalahan, tidak mau mencoba untuk berbenah diri dan melanjutkan perjuangan. Inilah makna dari kekalahan yang sebenarnya.
Jika hal ini sudah menggerogoti pikiran dan jiwa, maka kita tinggal menunggu kekalahan selanjutnya. Semua tergantung sikap dan mentalitas dalam menyikapinya. Kalau kekalahan memicu kemarahan, membawa keputusasaan, selain menghancurkan citra sendiri, juga merusak tatanan sosial dan akan menuai kekalahan lebih parah lagi.
Tamsil ini hanya mengingatkan kita bahwa kekalahan bukanlah akhir segala-galanya, tapi itu adalah awal menuju sebuah kesuksesan. Tidak ada orang yang ingin kalah, tapi kalau memang kita harus kalah, terimalah itu dengan lapang dada dan berjiwa besar. Karena hakekat menang atau kalah itu Sunnatullah. Sama halnya ada kaya dan miskin. Kekalahan atau kemenangan merupakan perguliran waktu di antara manusia.
Kekalahan akan melahirkan kemenangan, jika selalu disikapi dengan pikiran waras dan lego lilo. Al Gore saja saat kalah melawan George Bush Jr pada Pilpres AS, dengan penuh kearifan berucap “Kekalahan dan kemenangan adalah jalan untuk memuliakan jiwa kita.”
Walau disadari dalam kompetisi itu tujuannya untuk menang, tetapi bukan dalam bentuk konsep harus menang.
Beberapa cara positif yang bisa dilakukan untuk menerima sebuah kekalahan untuk mencapai sebuah kemenangan.
Pertama, ketika kita mengalami kekalahan, maka hal yang seharusnya dilakukan adalah mengakui kelebihan lawan. Ini adalah wujud dari jiwa besar yang kita miliki. Akuilah bahwa memang lawan lebih baik dari kita. Tidak mudah memang.
Kalau mau jujur dengan diri sendiri maka semua akan menjadi mudah. Kenapa orang lain bisa menang dan kita kalah, itu adalah tanggung jawab kita bukan tanggung jawab orang lain. Kalau kata Rudi Hartono, sportif dan jujur adalah kunci kebesaran jiwa dalam sebuah kompetisi
Kedua, orang yang banyak memberikan alasan adalah orang yang tidak bisa menerima kekalahan dengan jiwa yang besar. Berbagai alasan yang mereka utarakan hanya untuk menutupi kekurangan yang mereka punya.
Hal ini tentu bukanlah mental yang dimiliki seorang pemimpin, karena mental pemimpin tidak akan punya pemikiran semacam itu. Jika diri kita masih suka mencari alasan dan suka mengambing hitamkan orang lain, maka kemenangan tidak akan kita raih, kalaupun menang, itu hanya kemenangan yang semu. Daniel Goleman pernah berpesan carilah spirit dan effort positif dari sebuah kekalahan.
Ketiga, hal terpenting dalam hidup ini saat menerima kekalahan adalah dengan melakukan evaluasi diri. Evaluasi ini bisa di lakukan dengan banyak hal. Misalnya dengan merenung (introspeksi diri), meminta masukan, menerima kritik dan saran dari orang lain.
Evaluasi diri ini akan menjadikan kita lebih peka terhadap kelemahan diri dan selalu berupaya untuk memperbaiki kelemahan tersebut. Hasan Al-Banna menghimbau sering-seringlah merenung sesaat utk berkontemplasi demi sebuah kemenangan pikiran.
Keempat, ada kalanya kita melihat orang yang mengalami kekalahan cenderung memiliki kecemasan dan ketakutan. Kecemasan dan ketakutan inilah yang membuat mereka tidak berani mengambil risiko untuk yang ke dua kalinya atau seterusnya.
Tentu hal ini bukanlah mental para pemenang. Para pemenang sesungguhnya tidak akan pernah berhenti berjuang meskipun kekalahan demi kekalahan terus dialami. Namun ia tidak pernah menyerah dan yakin akan mencapai sebuah kemenangan. Agama mengajarkan man jaddah wajada, siapa yang bersungguh-sungguh maka akan meraih keberhasilan
Pemenang sejati sesungguhnya adalah berjiwa besar mengakui kekalahan dan berhati lapang menerima dan menginspirasi untuk kemenangan orang lain.



0 komentar:
Posting Komentar